KACAMATA YANG PATAH
Kacamata Yang Patah
Oleh : M. N. Rao Pulungan, S.H,
S.Pd, M.Si
Artinya: “Dan ingatlah ketika Lukman berkata
kepada anakanya, dalam keadaan dia menasehatinya “wahai
anakku janganlah engkau mempersekutukan
Allah sesungguhya mempersekutukan Allah adalah
kedzaliman yang besar”.(QS. Lukman:13).
Islam menuntun umatnya menuju jalan
lurus yang di ridhoi oleh Allah SWT, dengan berpedoman Al-Quran . Al-Quran dapat
di jadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari yang
memberikan petunjuk ke jalan yang benar dan terarah.Yaitu baik dalam diri sendiri,
keluarga, maupun lingkungan.
Sebenarnya keluarga adalah awal peradaban manusia di mulai. Mempunyai fungsi yang tidak hanya terbatas selaku penerus keturunan
saja. Dalam bidang pendidikan, keluarga merupakan sumber pendidikan pertama dan utama, karena segala pengetahuan dan intlektual
manusia di peroleh dari orangtua . Keluarga
merupakan produsen distribusi dan konsumen. Sekaligus harus mempersiapkan dan menyediakan segala
kebutuhan sehari-hari seperti seperti sandang,pangan dan papan. Setiap anggota
keluarga di butuhkan saling membutuhkan satu sama lain, agar mereka hidup lebih tenang,
senang dan damai serta harmonis.
Datangnya berita
dari anaku radja yang mengatakan bahwa kacamatanya patah akibat permainan sepak bola, terpikir olehku
kasihan dia ga bisa baca. Karena radja dalam segala aktifitas sehari-hari dia
tidak lepas dari kacamata sebagai penunjang aktifitasnya. Kemudian aku bertanya
kepada radja masih adakah kacamat yang lain atau cadangannya , dia bilang masih
ada yang patah sebelah. Terbesit hatiku sedih mendengar dia ngomong bahwa
kacamatanya patah akibat permainan sepak bola.
Perasaan orangtua
melihat anaknya tidak bisa melakukan aktifitas secara maksimal.
Aku berpikir harus berangkat ke bandung sekalian nengok anaku di pesantren
istiqoma. Karena anaku Radja belajar di pesantren istiqoma dan
sekolah formalnya MAN Bandung 1 Bandung. Maka aku putuskan besok harus
berangkat ke bandung untuk membeli kacamata baru buat anaku Radja.
Keesokan harinya,
pagi-pagi aku siap berangkat ke bandung terlebih dahulu aku siapkan
perlengkapan di perjalanan menuju ke bandung karena melihat cuaca pada musim
hujan sekarang ini. Setelah perlengkapan perjalanan sudah siap maka aku
berangkat. Perjalanan Subang-Bandung di tempuh oleh kendaraan bermotor sekitar
2 jam perjalanan sekitar 60 KM.
Selama dalam
perjalanan menuju kota bandung aku begitu tajub dan terpesona akan ke indahan
alam selama perjalanan. Karena sepanjang jalan menuju Bandung melihat
perkebunan Teh dan perkebunan pines yang begitu indah dan mempesona, memanjakan mata yang memandang panorama alam yang Allah ciptakan ke
bum ini sebagai bahan tafakur buat diri kita.
Sampai tujuan,
tempat anakku pesantren. Anakku sudah menunggu dan menyambut ke datangan aku,
dengan sapaan Assalamualaikum abi kemudian aku jawab walaikumsalam. Mari kita
berangkat membeli kacamata yang patah ke jalan ABC, karena tempat ini terkenal
di kota bandung sebagai tempat jual kacamata dan berjejer optik. Sepanjang
perjalan naik motor dengan anakku aku selalu bercerita dan menanyakan kondisi
dan situasi belajar baik di pesantren maupun MAN 1 Bandung.
Setibanya di
tempat tujuan untuk membeli kacamata di jalan ABC, aku meparkirkan kendaran
motor. Kemudian aku dan anakku keliling-keliling sepanjang jalan ABC mencari
tempat langgana kacamata yang biasa mangkal di daerah tersebut. Setelah ketemu
dengan penjaga optik kacamata dan saling sapa, karena sudah sekian waktu yang
lama tidak pernah mengunjungi tempat Optik tersebut. Petugas optik
mempersilakan untuk memilih dan melihat model kacamata yang di inginkan oleh
anakku sesuai dengan bentuk wajah, di rasakan cocok dan sesuai dengan selera.
Kemudian terjadi tawar menawar harga kacamata, setelah ada kesepakatan aku akan mengeluarkan uang untuk membayar kacamat.
Kemudian anakku melarang, tidak usah abi yang bayar
kacamata yang patah, kareana radja yang mematahkan kacamata. Maka radja harus
bertanggung jawa atas perbuatan Radja sendiri. Lalu aku nanya ke anaku Radja,
dari mana radja punya uang untuk membayar kacamata. Anaku dengan ringan
menjawabnya, Radja mengumpulkan dan menyisikan uang setiap bulan yang abi
kasih.
Setetes air mata aku berkaca-kaca mendengar
jawaban anakku Radja, dalam hatiku aku berucap terimakasih Ya Rabb. Begitu
besar kalimatmu karena anaku Radja, bisa berpegang pada Al-Qur’an sebagai
pedoman dan tuntunan dalam hidupnya.
Sebaliknya keluarga masa kini sudah banyak
kehilangan fungsi dan artinya, fungsi pedidikan sudah di serahkan
kepada lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah-sekolah,
sehingga tugas orang tua dalam hal memperkembangkan
dari segi intelek anak menjadi lebih ringan.
Dengan demikian
fungsi keluarga menjadi
sangat berkurang dan arti keluarga
dan ikatanya seolah-olah mengalami kegoncangan. Hubungan antara pribadi menjadi menjauh
dan melemah, sehingga
arti pribadi megalami suatu perubahan. Beberapa dasar
individulistis tadi tidak lagi di penuhi
bahkan tidak lagi di perhitungkan sama sekali, karna itu bisa timbul frustasi, yaitu keadaan tidak tercapainya suatu keinginan atau
kebutuhan dasar yang mendorog tingkah laku sedemikian mendalamnya, sehingga
timbul peristiwa-peristiwa yang tidak terduga, sekalipun lingkungan
hidup sudah mencapai taraf kehidupan
yang cukup tinggi, peraturan-peraturan yang
kini sudah demikian berakar dan mengatur seluk-beluk kehidupan, akhirnya
di langgar begitu saja, masalah
seperti ini menginspirasi saya untuk menelusuri
kewajiban-kewajiban apa yang harus di lakukan sebagai orang tua terhadap
anaknya yang sesuai
dengan syariat Islam.
Dimasa era globalisasi saat ini yang semakin banyak pengaruh-pengaruh negatif
terutama dari lingkungan, baik itu dari teman di kampung, sekolah,
komunitas, organisasi dan lain sebagainya, sebagai orang tua maka harus
lebih hati-hati dan teliti terhadap anak dalam urusan
pendidikan yang di berikan atau yang sedang di lakuka oleh anak, serta berikan perhatian yang cukup untuk anak serta
pendidikan yang baik dan sejalan
dengan tuntunan Islam yang telah di terapkan di agama Islam.
Di dalam buku Teha Sugiyo menjelaskan “Keluarga
adalah dasar kesejahteraan
masyarakat, manusia tanpa keluarga adalah tanpa dasar yang sangat vital bagi kebahagiaan manusia, keluarga juga
mempunyai arti yang esensial bagi
kekuatan dan daya tahan suatu bangsa, andai kata keluarga dihapuskan, bangsa
akan sempoyongan dan ambruk”. (Sugiyo, 2001:15). Dengan demikian bahwa
pendidikan anak dalam keluarga merupakan
tanggung jawab orangtua adalah jelas, hanya karena keterbatasan kemampuan orang tua seperti Sekolah, TPA, madrasah, pesantren
dsb. Untuk mengajarkan ilmu dan
keterampilan.
Pahala yang paling
besar bagi orang
tua adalah membina
keluarga. Seperti diriwayatkan oleh Muslim: “Satu dinar engkau nafkahkan
di jalan Allah SWT, satu dinar engkau bebaskan untuk
budak, dan satu dinar engkau nafkahkan untuk keluargamu. Yang paling besar
pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu” (Hidayat,
1994:12).
Anak adalah seseorang
yang menjadi sasaran
dalam suatu pendidikan. Kewajiban sebagai seorang anak
adalah menyembah Allah dan berbuat
baik kepada orang tuanya, bahkan dilarang membantah atau menyakiti hatinya, dan diwajibkan mengucapkan perkataan mulia.
Seorang Ayah atau lebih tepatnya
orangtua mempunyai kewajiban/tanggung jawab untuk memberikan
pendidikan kepada anaknya, Seperti:1). Tanggung jawab pendidikan iman, 2). Tanggung
jawab pendidikan akhlak,
3). Tanggung jawab pendidikan fisik, 4). Tanggung
jawan pendidikan intlektual, 5). Tanggung jawab
pendidikan psikis, 6). Tanggung jawab pendidikan sosial, 7). Tanggung jawab pendidikan seksual.
Selain
mendidik anaknya orang tua juga harus
memberikan contoh, dalam arti orang tua
juga mempunyai perlakuan baik tentang apa yang
diajarkan kepada anaknya.
Anak juga perlu meminta kerelaan orang tuanya, karena kerelaan Allah tergantung dari kerelaan orang tua.Oleh karena
itu kewajiban anak terhadap orang tua perlu dijalankan. Kewajiban
anak lainya adalah menuntut ilmu dan mengemalkanya dalam kehidupan sehari-hari.(Prayitno,
2004: 470).
Di zaman yang penuh dengan saingan ini jangan pernah lupa mendidik anaknya karna anak adalah penerus bangsa.
Jika seorang anak tak terdidik apa jadinya
nanti Bangsa Indonesia. Semoga dengan kacamata patah ini memberikan hikam buat saya
sendiri dan semua orang tua
dimanapun berada ,agar selalu memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya dengan berpegang teguh pada
Al Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad Saw.Semoga generasi penerus bangsa
ini,anak-anak yang ber akhlakul karimah.Aamiin
------------------------------
“ Semua orang tua berkewajiban memberikan yang terbaik untuk
anaknya.Karena anak yang berakhlakul
karimah merupakan investasi masa depan / akhirat kelak .“
(Rao Pulungan)

Komentar
Posting Komentar