Ingin Pulang, Rindu Berat

 






Oleh: M.N Rao Pulungan

“Sejauh apa pun kakiku melangkah meninggalkan kampung halaman dan keluargaku tercinta, tetap tempat kembali yang terindah adalah keluargaku, tanpa mereka aku bukan siapa-siapa hidup di dunia ini.” ( quotes-rp)

----------------------------

Hari ini Subang sama saja tak ada bedanya dengan hari-hari yang lain. Dinginnya yang mencekam dan kesibukkan setiap orang yang masih bernyawa. Hari ini sama saja dengan hari-hari yang lain, yang ada hanyalah kerinduan yang sesak di dada. Seperti kata Dilan, rindu itu berat kau takkan kuat. Ada betulnya juga rindu itu berat, tapi bukan rindunya berat tapi menurutku yang lebih berat adalah menahan rindunya yang berat. Seorang Raja pun takkan sanggup menahannya.

Lagi-lagi rindu, anak muda zaman sekarang rindu sudah seperti nasi yang enak dimakan dengan tempe goreng dicampur tahu dan sambal balado. Rindu itu sudah seperti nyawanya anak muda, bukan anak muda kalau belum pernah rindu serta merindukan. Apakah harus kita ubah nama Negara menjadi Negara rindu-sia  atau merindu-sia. Ada-ada saja anak muda zaman sekarang meskipun rindu itu tidak bertuan.

Bagiku rindu itu abstrak, seperti angin yang mampu dirasa tapi tak mampu dilihat. Rindu itu gila, seperti orang gila yang sedang melihat masa depannya. Seperti itulah. Tak pasti, seperti es kepal milo yang laku karena viral yang rasanya biasa saja. Aku juga bingung mengapa es kepal milo namanya es kepal milo, mengapa tidak es kepal marjan atau es kepal nutrisari, mengapa harus milo. Apakah karena karena ada milonya. Sungguh aneh, begitulah rindu. Seperti es kepal milo.

Entahlah, beberapa hari ini semua teman-temanku hanya membahas kampung halaman. Padahal kampungnya hanyalah di Subang. Aku bingung mengapa kampung halaman begitu sakral untuk dibicarakan, apakah mereka tidak takut menyinggung perasaan temannya yang jauh kampungnya seperti padang, meskipun di Subang banyak nasi padang tetap saja jauh. Jika hari       Jum’at sudah dekat, apalagi semua  yang ingin pulang kampung sibuk menanyakan jadwal  kepada dosen, sampai-sampai harus memindahkan jadwal pertemuan karena mereka yang ingin pulang kampung, hatiku teriris. Mereka yang tak tahan ingin berjumpa dengan keluarga dengan jarak rumahnya satu jam bahkan ada yang dua jam juga bisa sampai, gara-gara mereka yang ingin pulang, kami tim pengontrak rumah atau kamar kos hanya pengikut setia. Kami adalah merindukan yang tahu untuk siapa.

Inginku berteriak, “ku ingin marah, tapi ku hanyalah sendiri di kosan.”

Gara-gara mereka yang egois “ingin pulang, ingin pulang, aku rindu, aku rindu.”  Kami terpaksa mengikuti kehendak mereka, jikalau ada kelas pergantian harus diundur dan mengikuti jadwal mereka. Tapi tak apalah, setidaknya mereka pulang kampung ingin bertemu dengan keluarganya. Tak apalah, kami yang tak dapat pulang pun melihat mereka bahagia sudah lebih dari cukup. Mereka bahagia kami pun bahagia.

“Kamu pulang gak lebaran nanti?” Tanya mereka

“Kayaknya sih enggak,” jawabku jujur dari hati yang paling dalam

“Wahh, ih kasian…” ujur mereka sambil menunjukkan wajah yang mengatakan kami pulang loh.

             Selain libur mingguan, kini hadir pula libur lebaran Idul Adha. Padahal baru mau masuk bulan juni tapi sudah membahas lebaran Idul Adha. Sepertinya liburan dan rindu itu sudah tak dapat dipisahkan. Lini masa di media sosial ku dipenuhi status-status mereka yang mengatakan, “aku ingin pulang, aku rindu rumah, aku rindu mama dan lain-lain.” Aku yang membacanya sulit ingin berkata apa, ingin ikut sedih, bahagia, atau diam saja.

              Kamar kos sudah menjadi kampung ku saat ini, dan kampus adalah tempat aku musafirkan diri. Bukan aku tak ingin pulang, bagiku semua musafir yang masih jauh dari tempat asalnya pasti inginkan pulang tapi apa hendak dikata, tugas masih banyak, uas masih banyak, belum halangan lainnya. Apakah rindu dan pulang kampung akan menyelesai semua tugasku disini. Inginku sekali pulang, makan masakan ibu, bermain dengan saudara dan mengenang masa lalu.

“Kamu pulang lebaran nanti?” Tanya sang dosen.

“Sepertinya tidak pak.” Jawabku sederhana tapi mengheningkan cipta.

“Wah, kasian yah, nanti bapak kasih kue lebaran. Soalnya istri Bapak senang membuat kue lebaran.” Ujarnya sembari mengajarkan materi yang belum sempat ia sampaikan karena terpotong dengan pertanyaan mematikannya tadi.

Malam-malamku dikosan tercinta hanya ada ditemani dengan kehampaan, kegelisahan. Sejenak aku berpikir mengapa semua orang bertanya sesuatu yang sangat menyakitkan. Aku hanya terbaring di kasur yang tipisnya hampir mengena lantai yang super dingin ini. Aku tidak boleh lemah dalam sebuah pertanyaan yang belum tentu keluar di ujian nanti, pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk orang-orang yang tidak percaya diri. Kata Dilan sih seperti itu, “iya sih aku lagi tidak percaya diri.”

“Ibu, maaf mengganggu, ini tugas yang harus saya kumpulkan.” Sapaku kepada sosok dosen yang lagi menghayal.

“Oh iya nak, simpan di atas meja, eh kamu pulang tidak lebaran nanti” ujarnya lembut sambil tersenyum.

“Mungkin tidak buk.” Jawabku jujur

“Lah kok mungkin, oh kalau kamu tidak pulang, lebaran di rumah ibu saja. Bersama mahasiswa dari Medan dia tidak pulang juga,” tegas bu dosen.

“InsyaAllah buk.” Jawabku dengan penuh santunnya anak perantau yang tau diri bahwa rindu itu berat.

Aku mungkin telah lupa diri, bahwa aku ini perantau yang hilang dalam dinginnya kota Bandung. Bukannya aku tak ingin pulang, tapi aku ingin mengajar diriku untuk menghargai apa yang pernah aku ada. Dengan berjauhan aku tau bahwa aku harus bisa menghargai waktu dan keluarga pastinya. Aku tahu waktu tidak bisa diundur atau di majukan, tapi setidaknya aku tahu bahwa pengalaman itu tidak bisa dibeli. Dan jujur saja aku rindu masakan orang tua, aku rindu lihat wajah orang tuaku, tapi biarlah rindu ini berlalu dan pergi begitu saja. Temanku berkata bahwa mereka ingin pulang lalu tersesat dipelukkan seseorang sedang aku tersesat dalam rindu yang mendalam.

Tidak bisa mudik lebih terasa sepi karena jauh dari keluarga. Terlebih ini pertama kalinya momen Lebaran tidak  berkumpul karena jauh merantau biasanya saat Lebaran, keluarga silaturahmi ke keluarga dan teman-teman. Ia mengaku kangen dengan open house yang berkesan saat Idul Adha. Kala rindu menyapa, Kenang menyiasatinya dengan memanfaatkan teknologi. Sesekali saat sudah pulang kerja, menyempatkan waktu untuk video call dengan keluarga, terutama orangtu berkumpul beramai-ramai.

             Lepas rindu lewat sajian khas kerinduan berkumpul bersama keluarga di momen Ramadan dan Lebaran sangat di nantikan. Salah satu momen lebaran yang membuat kian kangen kampung halaman adalah saat sungkem dengan kedua orangtua, kakek, dan nenek.Sungkeman itu bermakna banget dan itu yang tidak bisa dilakukan sekarang. begitu, ia melepas rindu dengan keluarga melalui video call. "Sekarang lebih gampang karena ada video call dan telepon  sempat  minta ibu kirim bumbu pecel dari kampung. Ibu kirim bumbu pecel dibikinin satu kotak gede sekitar tiga kilogram kayaknya itu. Bumbu pecel tinggal dikasih air panas dicairkan untuk makan pecel itu yang paling gampang, Meski banyak sajian khas daerahku yang ada di kota Subang, namun rasanya tetap berbeda, tidak seperti buatan ibu. Buatan ibu yang asli rasaya khas desa. Disini ada rasa yang beda, jadi bumbu pecel buatan ibu itu yang bisa melepas rinduku kepada ibu dan  semuanya yang ada jauh di sana.

 

Hantaran manis menjelang Idul Adha jadi momen yang padat bagi para pelaku usaha, termasuk mereka yang menyediakan hantaran. Terbatasnya ruang gerak antara beberapa anggota keluarga yang tak bisa berkumpul menjadikan hantaran sebagai bentuk perhatian manis. Jajan Si Manis pun memiliki beberapa bakulan, yang terdiri atas Bakul Ijo, Bakul Kecil, Bakul Campur, Bakul Tumpuk.  yang turut dijadikan wadah jajanan pasar mereka.Hantaran manis itu mengigatkanku  untuk pulang. Sementara, kue yang dapat  membuat aku benar-benar rindu ingin pulang. sebagai menu harian, yakni ada surabi, klepon, pastel,  klepon ubi, bacang telur asin, onde-onde pelangi. Untuk sajian yang ada di hari khusus, yakni lupis, , pisang goreng sambal pccel, lumpia, risol bihun, dan kue mangkok.

           

Kendati demikian, rasa untuk kembali ke rumah berkumpul dengan keluarga selalu ada. "Rasa ingin pulang ada, tapi kalau enggak, juga tidak apa-apa. Lepas rindu bisa video call dan WhatsApp itu sudah cukup. Melalui doa setiap  waktu ku panjatkan kepada Allah Swt semoga mereka yang ku sayang nan jauh di sana tetap dalam lindungan-Nya. Aamin

 

 

 

 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KACAMATA YANG PATAH

BIDADARI TAK BERSAYAP