GENERASI MILENIAL

 



Siapa Sajakah Generasi Milenial itu ?

.Generasi milenial adalah sebutan lain dari generasi Y, yang mana frasa ini khusus untuk menggambarkan orang-orang yang lahir antara tahun 1980 dan 2000. 

 Meskipun begitu, arti dari generasi milenial ini masih banyak diperdebatkan oleh para ahli. Sebagian para ahli mengatakan bahwa generasi milenial artinya orang-orang yang lahir antara tahun 1970-an hingga awal 90-an. Namun, sebagian ahli lainnya mengatakan bahwa tahun 2004 menjadi tahun terakhir dari kelahiran generasi milenial atau gen Y.Menurut website mental floss dot cot, ada 15 fakta generasi milenial yang mungkin belum pernah kita ketahui sebelumnya. Apa saja ya kira-kira? fakta-fakta generasi milenial berikut ini. 

 

Fakta Generasi Milenial

 

1. Istilah “Milenial” diciptakan pada tahun 1991. 

Muncul pada tahun 1991, seorang sejarawan bernama Neil Howe dan William Strauss memutuskan untuk menggunakan kata milenial dalam buku mereka yang berjudul Generations. Hal ini dilakukan berdasarkan fakta bahwa para generasi milenial yang paling tertua akan lulus jenjang pendidikan SMA pada tahun 2000. 

 

2. Generasi Milenial Menghabiskan 85% Waktu dalam Sehari untuk Menggunakan Gadget. 

Kami tahu mungkin ini tidak termasuk ke dalam fakta yang mengejutkan, karena hampir semua orang tahu generasi milenial tidak pernah bisa lepas dari teknologi. Itulah mengapa mereka dijuluki sebagai generasi tech-savvy. Bagaimana tidak, 85% waktu yang mereka miliki dalam sehari rela dihabiskan untuk menggunakan ponsel atau gadget-gadget lainnya.  

 

3. Generasi Milenial adalah Orang-Orang yang Suka Membaca Buku. 

Percaya tidak kalau generasi milenial terdiri dari orang-orang yang gemar membaca buku,namun nyatanya generasi lain membaca buku lebih sedikit per tahunnya dibandingkan generasi milenial. Tidak hanya itu, generasi milenial juga lebih sering mengunjungi perpustakaan umum daripada generasi lainnya. Contohnya saja generasi milenial Indonesia, jika kita pergi ke perpustakaan nasional, kita akan lebih sering bertemu dengan orang-orang milenial yang membaca buku disana.  

 

Ada satu fakta menarik yang masih berkaitan dengan poin ini yaitu, meskipun generasi milenial sangat dekat dengan teknologi, namun mereka jauh lebih suka membaca buku cetak daripada membaca lewat ebook loh!

 

4. Dalam Hal Pekerjaan, Generasi Milenial Meraih Pendapatan 20% yang Lebih Sedikit daripada Baby Boomers. 

Fakta menunjukkan bahwa Baby Boomers atau generasi orang tua dari milenial, ternyata memiliki pendapatan yang lebih tinggi daripada anak-anak mereka. Studi yang dilakukan oleh Young Invincibles menunjukkan bahwa generasi milenial menghasilkan pendapatan 20% yang lebih sedikit daripada orang tua mereka atau Baby Boomers. 

 

5. Sepertiga Generasi Milenial yang Berusia 18-34 Tahun Tinggal di Rumah bersama Orang Tua Mereka.

Ini fakta yang cukup mengejutkan bukan? Mungkin banyak orang berpikir bahwa generasi milenial adalah orang-orang yang sangat ambisius dalam kehidupan mereka, sehingga milenial akan memilih untuk tinggal berpisah dengan orang tua mereka. Namun, ternyata tingginya biaya rumah atau tempat tinggal membuat milenial lebih memilih untuk tinggal bersama orang tuanya terlebih dahulu, sampai akhirnya nanti mereka memiliki tabungan yang cukup untuk membeli tempat tinggal pribadi.

 

6. Generasi Milenial sangat Menyukai Pengembangan Diri. 

Pengembangan diri atau self-improvement adalah salah satu hal yang sangat menarik perhatian gen Y atau generasi milenial ini. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa 94% generasi milenial memiliki resolusi tahun baru untuk melaksanakan pengembangan diri agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Misalnya, menghemat pengeluaran uang, sehingga bisa menabung uang lebih banyak. Ups, ini bukan sekedar resolusi semata loh, rekan-rekan. Karena kenyataannya, 76% generasi milenial mengatakan bahwa mereka telah berhasil mewujudkan resolusi tahun baru, terutama yang berkaitan dengan pengembangan diri. 

 

7. Generasi Milenial Memiliki Pendidikan yang Lebih Tinggi daripada Generasi sebelumnya.

Mungkin ini fakta menarik yang jarang kita ketahui. Ternyata, generasi milenial bukan hanya tech-savvy loh, namun sekitar 40% generasi milenial juga memiliki tingkat pendidikan atau gelar sarjana yang lebih tinggi dibandingkan 30% Gen X di seusia mereka kala itu. 

 

8. Generasi Milenial adalah Orang-orang yang Egois atau Self-Centered. 

Ini bukan sekedar asumsi, namun ini adalah fakta. Bahkan, penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 telah menunjukkan bahwa generasi milenial adalah orang-orang yang egois dan mereka menjadikan diri sendiri sebagai perhatian utama. Tak jarang mereka disebut sebagai generasi yang narsis. 

 

9. Generasi Milenial adalah Orang-Orang yang Peduli terhadap Lingkungan. 

Sebuah penelitian berskala besar yang melibatkan lebih dari 20.000 responden milenial dari 181 negara menunjukkan bahwa generasi milenial sangat memberikan keprihatinannya terhadap lingkungan sekitar. Misalnya, perubahan iklim, efek global warming, dan lain sebagainya. Nah, jadi jangan heran ya kalau rekan-rekan pembaca melihat banyak anak milenial yang berkoar-koar untuk mengurangi penggunaan plastik dan sedotan.

 

10. Gen Y atau Milenial juga sangat suka Beramal. 

Bukan hanya peduli terhadap lingkungan, namun ternyata generasi milenial juga sangat suka beramal. Menurut sebuah survei yang dilakukan baru-baru ini, 84% dari generasi milenial selalu memberikan sumbangan amal tahunan. Bahkan, 70% generasi milenial rela menyumbangkan waktu dan bakat mereka untuk tujuan-tujuan sosial yang mereka anggap sangat berharga. Misalnya, mengajarkan anak-anak kurang mampu untuk bisa membaca, menulis dan menghitung. Tentunya, sikap generasi milenial ini sangat diapresiasi oleh para generasi sebelumnya. 

 

11. Generasi Milenial sudah Menjadi Generasi Terbesar di Dunia Profesionalisme. 

Pada tahun 2017 saja sudah tercatat ada 56 juta generasi milenial yang sudah bekerja dan sedang mencari pekerjaan. Sedangkan, hanya 53 juta Gen X dan 41 juta Baby Boomers yang ada di dunia profesionalisme atau dunia kerja. Intinya, generasi milenial sudah mulai mendominasi dunia kerja di negara manapun nih, rekan-rekan. 

 

12. Generasi Milenial sangat Memikirkan Pekerjaan Mereka. 

Ada yang bilang gen Y acuh dengan pekerjaan mereka? Wah, salah besar. Sebuah studi yang dilakukan oleh Happify pada tahun 2016 menunjukkan bahwa gen Y atau generasi milenial dengan rentang usia antara 25 sampai 34 tahun sangat memikirkan pekerjaan mereka. Mereka memikirkan inovasi apa yang harus diberikan pada pekerjaan mereka, bagaimana mereka bisa meraih pencapaian kerja yang membanggakan, dan lain sebagainya. 

 

13. Gen Y atau Generasi Milenial Jarang Mengambil Cuti untuk Berlibur. 

Dalam satu survei yang dilakukan pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 48% karyawan milenial sangat ingin bos atau pemimpin mereka menganggap dan memandang mereka sebagai “karyawan yang profesional dan berdedikasi tinggi”. Berlanjut dengan studi yang dilakukan oleh LinkedIn pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 16% generasi milenial mengatakan mereka tidak ingin sering-sering meminta cuti kepada bos mereka.

 

14. Masih Banyak Generasi Milenial yang Menerima Bantuan Finansial dari Orang Tua Mereka. 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lynch atau Age Wave tahun 2019 ini, sekitar 7 dari 10 generasi milenial masih mengandalkan orang tua mereka untuk meminta bantuan finansial. Meskipun populasi dari generasi milenial dan generasi Z semakin mendominasi populasi warga dunia. Bahkan, dikabarkan jumlah populasi generasi Z akan melebihi generasi milenial. Namun, tetap saja generasi milenial masih menjadi bahan perbincangan yang digemari orang banyak. 

 

15. Generasi Milenial atau Gen Y sangat Mendambakan Perkembangan Karier yang Melejit dengan Cepat. 

Sudah banyak makalah generasi milenial dan essay tentang generasi milenial yang menyatakan bahwa karyawan milenial tidak suka jika karier mereka berkembang dengan sangat lambat. Dalam studi tersebut menunjukkan bahwa 90% generasi milenial menginginkan perkembangan karier yang melejit dengan cepat.

 

Tantangan Generasi Milenial

Terlepas dari beberapa fakta positif dan negatif tentang generasi milenial, kita juga perlu mengetahui tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi para generasi milenial. Hampir 70% para pemimpin dan pengusaha di dunia percaya bahwa fakta-fakta negatif yang dimiliki para gen Y disebabkan karena ambisi mereka yang terlalu tinggi. Dari ambisi yang tinggi inilah muncul konflik-konflik antara generasi milenial dengan para generasi sebelumnya. 

 

34% generasi X dan 24% generasi Baby Boomers setuju bahwa konflik-konflik tersebut telah menjadi tantangan tersendiri bagi generasi milenial. Jadi, apa saja yang menjadi tantangan generasi milenial?

 

1. Budaya Organisasi atau Perusahaan yang Buruk. 

Menurut laporan Robert Walters, 73% karyawan milenial telah meninggalkan pekerjaan karena budaya organisasi atau perusahaan yang buruk. Ini menjadi salah satu tantangan bagi generasi milenial untuk tetap bertahan dan berusaha mengubah budaya perusahaan yang buruk, atau mencari perusahaan lain yang budayanya sesuai dengan harapan mereka. 

 

2. Teknologi. 

Dikarenakan hubungan milenial dengan teknologi sangat erat, hal ini membuat mereka mudah kesal dengan generasi-generasi lain yang tidak mahir dalam teknologi. Data menunjukkan bahwa 34% pekerja yang lebih tua tidak memahami teknologi sebaik generasi milenial dan hal ini membuat gen Y menjadi semakin frustasi.

 

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para milenial. Apakah mereka akan bersabar dan rela menghabiskan sebagian waktu untuk mengajarkan teknologi pada generasi yang lebih tua atau malah sebaliknya? 

 

3. Pengalaman dan Pendidikan yang Tinggi. 

Seperti yang sudah kita bahas dalam fakta-fakta generasi milenial sebelumnya, generasi milenial memang memiliki gelar pendidikan yang paling tertinggi dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi gen Y, apakah mereka mau berusaha untuk berbaur dan bekerjasama dengan generasi sebelumnya atau malah bersikap acuh dengan mereka? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

F.Generasi Millennial Sumber Ide/ Penemuan Baru

 

Seperti dikutip dari Mashable, generasi milenial tidak tertarik dengan iklan televisi dan media cetak yang hanya dianggap cocok untuk generasi tua. Ke depan iklan produk melalui content video di internet maupun digital marketing lainya akan menjadi sebuah keharusan.

Menurut Wikipedia, karakteristik Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital.

Generasi millennial merupakan generasi “kepo”, sebelum memutuskan pembelian suatu produk, mereka terlebih dahulu mencari informasi melalui internet maupun sosial media. Review tentang produk di internet dan sosial media menjadi referral bagi mereka. Istilah word of mouth akan mengalami perubahan menjadi word of internet atau word of social media. Hasil riset Alvara Reseach Center tahun 2015 menemukan bahwa informasi produk yang paling banyak di cari oleh generasi millennials di internet adalah informasi tentang price, feature product, kemudian diikuti oleh promotion program dan customer review.

Meledaknya konsumsi gadget dan internet oleh generasi millennial secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada selling channel penjualan. Fenomena menjamurnya toko online seperti adalah salah satu indikasinya. Selain toko online, forum, media sosial sekarang juga banyak digunakan sebagai selling channel. Meroketnya jumlah penggunaan internet menjadikan di tahun 2020 tentu merupakan indikasi perkembangan online channel yang makin menggembirakan.

Generasi millennial adalah masyarakat sosial yang melek dan adaptable pada teknologi. Mereka cenderung suka memanfaatkan teknologi untuk mempermudah segala aktivitas, tak terkecuali aktivitas belanja. Dengan kemajuan teknologi cara pembayaran membuat generasi ini makin cashless (cenderung tak membawa uang tunai). Kemudahan pembayaran belanja melalui debit card, credit card e-money, internet banking maupun lainya mudah diadopsi oleh urban middle-class millennials. Sehingga keberadaan urban middle-class millennials tentu akan menjadi trigger bagi perkembangan pembayaran yang bersifat cashless. Kedepan alat pembayaran tradisional akan bergeser ke alat pembayaran yang modern.

Munculnya teknologi (gadget dan internet), perubahan geografis dan perubahan daya beli secara berlahan tapi pasti telah mengubah perilaku dan nilai nilai yang dianut oleh manusia. Urban middle-class millennials adalah masyarakat yang memiliki perilaku dan nilai-nilai yang unik yang disebabkan oleh melekatnya tiga entitas tersebut. Masyarakat urban middle-class millennials merupakan masyarakat muda terbuka (open minded), individualis, dan masyarakat multikultur sehingga memunculkan budaya-budaya baru.

Perubahan fenomena sosial generasi masa depan bisa tercermin dari fenomena Generasi millennial saat ini. Karakter individualis masyarakat kedepan akan terjadi. Meskipun mereka berkumpul gadget masih tidak bisa lepas dari tangan, tenggelam dalam dunia mereka sendiri adalah sebuah keniscayaan masyarakat masa depan. Gadget bukan menjadi lagi sebatas teknologi, tetapi sudah menjadi teman. Sepertinya sehari tanpa gadget adalah suatu kemustahilan.

Hasil pengamatan Generasi Millennial yang lagi nongkrong di café maupun di mall-mall, menunjukkan hasil yang sama. mereka berkumpul dengan teman maupun komunitas mereka, gadget tidak bisa lepas dari tangan dan penglihatan mereka. Mereka ngobrol sambil memegang dan melihat gadget.

Budaya lain yang muncul adalah budaya selfie dan narsis. Berkembangnya teknologi kamera smartphone salah satunya mendorong munculnya fenomena selfie dan narsis, apalagi saat ini muncul smartphone dengan keunggulan kamera depan sehingga menghasilkan hasil selfie yang fotogenik, perkembangan kamera smartphone perkembangan munculnya sosial media juga menjadi trigger.

Setelah bernarsis ria, mereka langsung mengunggah ke sosial media. Tempat-tempat menarik menjadi spot selfie dan narsis. Mereka tidak hanya selfie di tempat-tempat seperti mall, café, tempat wisata bahkan ditempat ibadah pun mereka berselfie ria. Selfie dan narsis secara tidak langsung memunculkan fenomena sosial lain, yaitu membludaknya pengunjung tempat wisata.

Bagi masyarakat saat ini, berlibur sudah menjadi kebutuhan seiring dengan padatnya pekerjaan Mereka membutuhkan waktu refresh sejenak. Kerkunjung ke tempat wisata bukan saja untuk liburan. Berfoto selfie dan narsis di tempat wisata khususnya tempat wisata luar negeri menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya. Hal ini dipengaruhi oleh arus globalisasi yang semakin cepat, di mana anak muda zaman saat ini dapat berinteraksi dengan manusia dari berbagai belahan dunia. Arus globalisasi berhasil menciptakan interaksi langsung dan tidak langsung yang lebih luas antar umat manusia, yang tidak mengenal batas-batas antara negara satu dengan negara yang lain. Oleh sebab itu, globalisasi membuat generasi millennial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini.

Ada perbedaan paradigma yang mencolok antara Generasi X dan Generasi Millennial terkait dunia kerja. Generasi X memandang ukuran sukses di dunia kerja adalah ketika mereka sukses meniti karir dari bawah sampai ke puncak posisi di perusahaan yang sama, loyalitas pada perusahaan adalah salah satu ukuran kunci sukses. Sebaliknya bagi Generasi Millennial ukuran sukses di dunia kerja adalah ketika mereka bisa pindah-pindah kerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain, bagi mereka semakin sering pindah berarti mereka termasuk orang yang “laku” di perusahaan,,banyak generasi millennial sebagai ujung tombak dalam pekerjaan, baik di bidang teknis atau di bidang pendukung. Jika generasi millennial ini bertugas di bidang Pengelolaan Kekayaan Negara, Bidang Penilaian , Bidang Lelang, pastinya generasi millennial tersebut akan berupaya memberikan inovasi-inovasi atau ide-ide yang mampu mempermudah dan meningkatkan kinerja. Namun, jika generasi millennial tersebut bertugas di bidang pendukung, sangatlah cocok jika berada pada bidang informasi dan teknologi. Dengan kemampuan generasi millennial yang mampu mengupdate pengetahuan tehnologi tersebut dapat membantu unit kerja dalam hal teknologi, selain itu dengan hobinya bermedia sosial sehingga akan selalu aktif mempublikasikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan tugas dan fungsi unit kerja, membuat inovasi-inovasi serta sehingga memberi dampak positif pada reputasi dan citra suatu unit kerja.

Unit kerja melalui teamwork harus mampu menjembatani dua generasi ini. Generasi millennial juga harus mampu menularkan antusiasme kepada generasi X dan generasi X mampu memberikan arahan dan mereka bekerja sama dengan baik untuk dapat mencapai target dan kinerja yang lebih baik.

 

 

      G. Generasi Millennial Sebuah Gambaran Pemuda Indonesia Selanjutnya.

 

 

Generasi Millennial merupakan sebuah istilah yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Banyak peneliti sering mengelompokkan generasi millennial kedalam generasi yang lahir antara tahun 1980-2000. Dengan kata lain generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia kisaran 15-34 tahun. Banyak studi sebelumnya yang sudah menjelaskan mengenai generasi millennial,

 

Wajah Indonesia di tahun 2020 sedikit banyak ditentukan oleh generasi muda millennial kita. Memenangkan Indonesia 2020 tentu kita harus mengetahui sedikit banyak karakter serta permasalahan yang akan dihadapi oleh generasi muda kita kedepan, karena segmen inilah yang akan menjadi penentu kemajuan Indonesia hingga tahun 2030. Menurut data BPS, saat ini 50 persen dari penduduk usia produktif berasal dari generasi millennials dan pada tahun 2020 hingga 2030 diperkiraan jumlahnya mencapai 70 persen dari penduduk usia produktif. Selain itu, pembahasan mengenai generasi millennial menjadi pembahasan yang saat ini banyak dibahas karena memang generasi millennial memiliki ciri dan karakter yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Selain usia mereka masih muda, mereka juga akan memegang peranan penting di berbagai aspek selama 10 hingga 20 tahun mendatang.

Generasi millennial memang unik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Keunikan dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Kehidupan generasi millennial tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama internet, entertainment/hiburan sudah menjadi kebutuhan pokok bagi generasi ini.

Untuk melihat gambaran generasi millennial Indonesia yang notabene merupakan gambaran pemuda Indonesia selanjutnya maka setidaknya ada beberapa isu yang perlu dikaji, yaitu :

Identitas Diri.
Jika dilihat dari gaya hidup generasi millenial saat ini cenderung hedonis terutama di kota-kota besar, mereka memiliki cara tersendiri untuk meluapkan ekspresi mereka, dunia hidup mereka tidak bisa lepas dari hiburan dan teknologi terutama internet (media sosial). Bagi generasi millennial di Indonesia khususnya, media sosial telah menjadi bagian dari keseharian mereka untuk dapat melihat perkembangan baru dari teman begitu pula sebaliknya, yaitu men¬share perkembangan kehidupan diri kepada teman.

Media sosial bagi kalangan industri merupakan media yang sangat baik sekali. Sebab, melalui Media sosial berbagai brand dan lembaga dapat berkomunikasi secara langsung dengan generasi muda. Di tempat lain, data mengenai perilaku generasi muda dapat dengan mudah disedot melalui berbagai update status di media tersebut. Selain itu Informasi mengenai berbagai krisis global dan nasional pun membanjiri gudang kognisi dari generasi muda setiap hari. Dengan begitu padatnya arus informasi mengenai update diri serta informasi yang dikonsumsi oleh generasi muda dapat menimbulkan situasi overload informasi. Overload informasi ini berimplikasi secara signifikan terhadap kondisi psikis dan perilaku generasi muda yang nantinya akan menghasilkan sebuah dampak terhadap hilangnya identitas diri. Identitas diri merupakan sebuah isu yang penting bagi generasi muda yang kerap diabaikan oleh banyak kalangan pengajar dan orang tua.

Menurut Erickson seorang ahli psikoanalis, setiap tahap kehidupan manusia harus melewati sebuah krisis identitas diri. Dimana kegagalan dalam melewati tahap krisis tersebut akan mengakibatkan terbentuknya sebuah profil kepribadian yang tidak seimbang dan tidak sehat.

Bagi generasi millenial di Indonesia, tahap krisis identitas diri kini menjadi semakin berat. Beratnya tantangan untuk mendapatkan identitas diri yang utuh tersebut dimotori oleh besarnya atensi terhadap media sosial, dimana reward akan diberikan kepada siapa yang berhasil mendapatkan “like” atau “retweet” terbanyak.

Masalah yang dimaksud disini adalah bahwa generasi muda akan semakin tergiring jauh dari eksplorasi jati diri mereka, dikarenakan sibuk berkompetisi dalam menunjukkan eksistensi dan signifikansi jati diri kepada sesama teman melalui media sosial. Untuk itu berkaca dari realitas tersebut maka sudah seharusnya kita semua mulai mengajak bersama-sama untuk mengembalikan aktivitas pemuda ke setting offline yaitu ruang publik, dunia yang sebenarnya.

Nilai-nilai Ideologi, Sosial-Politik-Budaya.
Ditengah tantangan yang akan dihadapi oleh generasi muda kita baik itu krisis global, modernitas, serta gaya hidup kompetitif-individualistik mencuat pertanyaan yang menarik seputar nilai-nilai ideologi politik dikalangan umum bahwa semangat patriotik dan nasionalisme telah luntur bahkan hilang dari generasi muda kita. Apakah memang seperti itu? Kalau melihat respon generasi muda kita di media sosial ketika simbol-simbol kita dilecehkan negara lain, mereka sangat aktif membela martabat bangsa dan negaranya. Hal ini agak berbanding terbalik jika kita melihat fenomena yang terjadi di dunia nyata. Masih banyak generasi muda yang cuek perihal kondisi kenegaraan yang sedang terjadi.

Pemberian pemahaman kepada generasi muda kita tentang semangat patriotik dan nasionalisme sangatlah penting, agar kiranya dukungan yang diberikan di media sosial tidak hanya sebatas aspek primordialisme, atau hanya sebatas mengikuti trend saja.

Berkaitan dengan nilai sosial dikalangan pemuda, banyak pihak berpandangan mulai ada pergeseran nilai-nilai sosial ketimuran kita dikalangan pemuda, karena generasi millennial lebih terbuka pemikirannya maka mereka juga dengan mudah mengadopsi nilai-nilai sosial barat yang lebih modern. Generasi millenial merupakan generasi muda terbuka (open minded), individualis. Perubahan fenomena sosial generasi masa depan bisa tercermin dari fenomena sosial saat ini. Karakter individualis generasi muda kedepan dapat dilihat dari beberapa fenomena misalnya meskipun mereka berkumpul gadget masih tidak bisa lepas dari tangan, tenggelam dalam dunia mereka sendiri adalah sebuah keniscayaan.

Gadget bukan menjadi lagi sebatas teknologi, tetapi sudah menjadi teman. Sepertinya sehari tanpa gadget adalah suatu kemustahilan. Budaya lain yang muncul adalah budaya selfie dan narsis. Berkembangnya teknologi kamera smartphone salah satu yang mendorong munculnya fenomena selfie dan narsis, apalagi saat ini mencul smarphone dengan keunggulan kamera depan sehingga menghasilkan hasil selfie yang fotogenik. Selfie dan narsis bukan lagi fenomena tetapi kedepan akan menjadi suatu budaya.

Hal ini akan berimplikasi pada makin pudarnya identitas budaya tradisional. Pergeseran kebudayaan kedepan akan membawa konsekuensi tersendiri bagi nilai-nilai budaya lokal. Apalagi ditambah karakter generasi muda yang open minded, dengan cepat budaya lokal akan tergerus oleh budaya modern.

Identitas diri atau jati diri merupakan salah satu komponen kepribadian yang penting untuk dimiliki generasi muda. Identitas diri terbentuk pada masa-masa krusial yaitu remaja dan dewasa muda. Dengan terbentuknya identitas diri yang mengkristal serta seimbang, seorang anak muda dapat dengan mudah memilih dan memfilter berbagai informasi juga permasalahan yang ia harus hadapi. Penguatan nilai-nilai kebudayaan lokal juga harus dilakukan oleh para pengajar maupun orang tua kita, agar kiranya budaya-budaya lokal yang ada di Indonesia masih tetap terpelihara kedepan.

Kemudian penanaman serta penguatan semangat nasionalisme juga dianggap penting agar kiranya ditengah proses globalisasi yang saat ini sedang terjadi generasi muda kita kedepan masih memiliki semangat nasionalisme yang masih tertata rapi di hati. .Karena jika kita berkaca pada sejarah, kelompok pemuda yang memiliki semangat patriotik dan nasionalisme yang tinggi lah serta cita-cita kemerdekaan yang nantinya berperan besar bagi cikal bakal lahirnya sebuah negara bernama Republik Indonesia.

H.Dampak positif dan negatif Generasi milenial

5 Manfaat Teknologi Informasi Di Era Millennial
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Di era millenial sekarang ini, kita semakin dimanjakan dalam banyak hal. Salah satunya dalam hal informasi dan komunikasi. Seiring dengan perubahan zaman yang semakin modern, banyak sekali kemajuan dan inovasi yang terjadi secara terus menerus yang tentunya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Teknologi informasi misalnya, teknologi yang berfungsi untuk membantu baik perorangan atau suatu grup dalam membuat, mengubah, menyimpan, menyampaikan informasi dan menyebarkan informasi sekarang mampu berkembang dengan cepat dan berkualitas. Peran teknologi informasi ini tak luput dari media komputer, handphone, televisi dan perangkat elektronik lainnya. Saat ini banyak sekali manfaat dari teknologi informasi yang dapat anda rasakan di berbagai bidang.

 

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Dunia Telekomunikasi

Coba anda bayangkan jika anda hidup di zaman purbakala dimana komunikasi hanya dilakukan lewat mulut ke mulut. Informasi yang kita sampaikan ke orang lain kadang menjadi berbeda saat orang lain mencoba melanjutkan informasi yang telah kita sampaikan. Kemudian saat orang-orang mulai mengenal dengan surat menyurat, informasi yang didapat mungkin akurat akan tetapi membutuhkan waktu yang lama dalam penyampaiannya. Adanya penemuan telegraf lalu telepon pada saat itu menjadi cikal bakal terjadinya kemajuan teknologi informasi. Anda bisa melakukan komunikasi jarak jauh dengan mudah dan cepat bahkan sampai ke mancanegara. Hingga sekarang kita bisa merasakan kemudahan dalam berkomunikasi melalui jejaring sosial yang ada di smartphone ke semua orang yang ada di seluruh dunia.

 

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Dunia Bisnis

Bagi para pelaku bisnis, kemajuan dalam bidang teknologi informasi ini memberikan dampak positif yang luar biasa. Banyak sekali keuntungan yang diperoleh yang tentunya mempengaruhi kenaikan laba. Hal ini sangat dirasakan oleh pebisnis yang menjalankan usahanya dengan basis online. Bagaimana tidak, sekarang anda bisa menjalankan usaha tanpa harus membangun atau menyewa toko. Anda mungkin juga tidak perlu membuka cabang. Hanya bermodalkan gadget dan kuota internet anda sudah bisa memulai usaha anda bahkan dari rumah. Tentunya hal ini mampu menghemat biaya dan juga menekan biaya operasional bukan?! Selain itu, kemudahan dalam berjualan juga merambah ke jejaring sosial seperti facebook dan instagram. Ditambah lagi sekarang banyak bermunculan marketplace seperti shopee, bukalapak, tokopedia, lazada dan sebagainya yang menawarkan berbagai fasilitas yang sangat menguntungkan baik penjual dan pembeli. Selain itu, marketplace ini dinilai mampu menjamin keamanan transaksi berbasis online dari tindak penipuan online-shop yang makin marak terjadi. Belanja online ini tidak mencakup hanya dalam satu negara saja. Bahkan anda bisa melakukan jual beli ke mancanegara.

 

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Dunia Perbankan

Dahulu kita menggunakan media celengan saat ingin menyimpan uang kita untuk kebutuhan kedepannya. Lama kelamaan banyak bermunculan perusahaan-perusahaan perbankan baik milik pemerintah maupun swasta yang menawarkan keamanan dan keuntungan dalam menabung atau menyimpan uang. Untuk transaksi awalnya, penyetoran dan pengambilan uang hanya bisa dilakukan langsung di kantor pada jam kerja. Namun anda bisa rasakan sendiri sekarang banyak perubahan yang semakin memudahkan anda dalam aktivitas perputaran uang ini. Anda tidak perlu lagi berada di antrian ular saat ingin mengambil atau melakukan penyetoran uang. Banyak sekali ATM dan mesin setor tunai yang bisa anda jumpai di setiap sudut kota dengan layanan 24 jam nonstop. Hal ini tentu sangat menghemat waktu anda yang sangat sibuk. Selain itu, dengan adanya layanan mobile banking anda sangat dimanjakan dalam transaksi transfer uang, pembayaran tagihan, pembelian pulsa dan transaksi lainnya hanya dengan mengikuti instruksi yang ada pada aplikasi smartphone anda

 Manfaat Teknologi Informasi Dalam Dunia Pendidikan

Seperti yang sudah pernah anda rasakan, kegiatan belajar mengajar tak jauh-jauh dari peran buku. Segala hal yang kita tuliskan untuk keperluan referensi bahan ajar dan pembuatan tugas-tugas sekolah bersumber dari buku. Namun seiring dengan berkembangnya teknologi informasi anda bisa memanfaatkan media internet atau sering disebut e-learning untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang mungkin tidak bisa anda temukan di buku. Selain itu dalam hal pendaftaran sekolah, dahulu kita harus datang langsung ke sekolah tujuan yang diinginkan. Berbeda dengan sekarang yang sudah mulai menerapkan registrasi berbasis online yang dinilai sangat menghemat waktu dan lebih efisien. Bahkan sekarang ada universitas yang memberikan fasilitas belajar mengajar jarak jauh. Dengan melalui perantara internet anda sudah bisa terhubung dengan dosen anda tanpa harus bertatap muka langsung.

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Dunia Kesehatan

Teknologi informasi juga sangat berjasa sekali dalam perbaikan manajemen di klinik atau rumah sakit. Jika dulu pencatatan riwayat kesehatan pasien hanya ditulis dalam sebuah berkas, sekarang pencatatan juga dilakukan dan diarsipkan di komputer. Hal ini akan sangat memudahkan petugas untuk mengetahui rekam medis pasien dengan cepat. Rekam medis berbasis komputer ini meliputi data klinis pasien dari hasil pemeriksaan dokter ataupun hasil laboratorium.

Citra Negatif yang Sering Dipersepsikan Pada Generasi Milenial

 

 

Kehadiran generasi Z - generasi yang merupakan pergeseran dari generasi milenial tidak juga mengubah topik perbincangan tentang generasi Y ini. Generasi milenial masih menjadi generasi yang paling seru dibahas lantaran memiliki karakter unik dan berbeda. Namun sayangnya generasi milenial kerap kali dicap sebagai generasi yang sulit dimengerti.

Imbasnya, muncul citra negatif yang sering dilekatkan pada mereka. Berikut lima hal negatif yang sering dipersepsikan pada generasi milenial.

Manja dan 'bergantung' pada Orang Tua

Generasi milenial kerap disangka manja dan masih bergantung pada orang tua. Hal ini berdasarkan data jumlah generasi milenial yang masih tinggal dengan orang tua makin meningkat. Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 dan survei penduduk antar survei tahun 2015 yang dilakukan BPS, persentase penduduk usia 25-39 yang tinggal dengan orang tua naik dari 17,9 persen menjadi 22,2 persen.

Me Generation

Lahir di zaman yang sudah modern dengan teknologi membuat generasi milenial sudah terbiasa menggunakan gadget dalam kehidupan sehari-hari baik untuk bekerja atau sekadar untuk menikmati waktu luangnya. Kehadiran teknologi dalam kehidupan milenial membuat generasi ini sering disebut-sebut memiliki dunianya sendiri dan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Misalnya, mereka tetap percaya diri bersolek di depan kamera untuk ber-selfie ria atau membuat sebuah video di manapun mereka berada.

Persepsi lain yang rasanya diyakini banyak orang terhadap generasi yang lahir pada awal tahun 1980-an hingga akhir tahun 1990an ini adalah gampang bosan, suka hura-hura, dan suka berpindah pekerjaan. Hal ini berbeda dengan generasi pendahulunya yang bisa berpuluh-puluh tahun bekerja di bidang dan perusahaan yang sama.

Lebih Suka ‘Single' Lama daripada Segera Berkeluarga

Salah satu stigma lain yang lekat dengan generasi milenial adalah kurang tertarik untuk buru-buru membangun keluarga. Jika dulu usia 20-an sudah dianggap ‘tua’ bila belum memiliki pasangan hidup, sekarang lajang di usia 30-an pun tidak jadi masalah. Berdasarkan penelitian PEW Research yang dilakukan di Amerika Serikat tahun 2014, menunjukkan bahwa generasi millenial di negeri tersebut tidak lagi menganggap pernikahan sebagai hal yang terlalu penting. Hanya 26% milenial yang menikah, sementara sisanya mengatakan mereka ingin menikah tetapi masih mengutamakan pekerjaan dan finansial yang kuat sebelum berumah tangga.

Tingkat Konsumtif Tinggi

You only live once (YOLO) menjadi slogan yang melekat dengan generasi milenial yang besar di era digital. Belanja, traveling, sampai budaya minum kopi premium seringkali dikaitkan dengan kebahagiaan instan kaum milenial agar mendapatkan keseimbangan hidup. Inilah alasan mengapa milenial cenderung impulsif. Demi mendapatkan kebahagiaan dan keseimbangan hidup, mereka rela mengeluarkan uang demi sekadar hobi yang mereka sukai.

Lima hal ini sering dikaitkan dengan milenial. Terlepas ini mitos atau fakta, generasi milenial juga punya sisi positif. Terbukti bahwa generasi milenial ternyata juga punya karakter yang diturunkan oleh generasi sebelumnya: generasi Baby Boomers dan generasi X yang memprioritaskan kebahagian keluarga.

Dalam penelitian Pew Study, 84% dari usia 18-29 tahun saat ini, merasa bertanggung jawab atas masa senja orang tuanya sehingga menjadi salah satu alasan juga di balik kebiasaan generasi milenial menjadi kutu loncat yang hobi pindah-pindah pekerjaan demi mendapatkan pendapatan lebih, agar bisa memenuhi kebutuhan pribadi dan juga keluarganya.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ingin Pulang, Rindu Berat

KACAMATA YANG PATAH

BIDADARI TAK BERSAYAP