IKHLAS DENGAN TAKDIR ALLAH SWT SEBAGAI BENTUK KETAATAN
Oleh
: M.N. Rao Pulungan
“Jika Allah mengambil
sesuatu darimu yang tidak kau sangka, maka kelak Allah akan memberimu sesuatu
yang tidak kau sangka akan memilikinya”
“Tidak ada suatu musibah pun
yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman
kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” Qur'an Surat At-Taghabun Ayat 11
Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah
dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu
dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka.
Seorang muslim wajib baginya mengimani
perkara-perkara yang telah diberikan kepadanya berupa rukun iman. Seorang
muslim yang baik bukan hanya mempercayai saja namun juga mengamalkan dari
setiap bagian rukun iman yakni: Iman Kepada Allah, Iman Kepada Malaikat, Iman
Kepada Kitab-kitab Allah, Iman Kepada Rasul, Iman Kepada Hari Akhir dan Iman
Kepada Qodho dan Qodar. Sebagai penganut agama yang kaffah haruslah terpenuhi
keseluruhan itu sesuai tuntunan dan arahan dari al-Qur’an dan Hadits.
Pada kenyataannya, sebagian manusia sering lupa
dan lalai akan kewajibannya mempercayai hal yang sudah pasti tersebut. Manusia
yang tersesat bisa saja melupakan Tuhannya dengan meniadakan Allah di setiap
nafas hidupnya. Manusia bisa saja melupakan iman kepada malaikat dan hari akhir
karena hati yang tersesat dengan tidak mempercayai suatu hal yang ghaib.
Manusia bisa saja melupakan iman kepada kitab-kitab Allah, dan Rasul Allah.
Namun manusia tidak bisa menghindari dari Qodho dan Qodar Allah. Oleh karena
itu, seorang muslim akan dimintai pertanggungjawaban dari setiap perbuatan yang
dikerjakannya.
Takdir atau lebih lengkapnya Qodho dan Qodar
memiliki unsur ikatan kesinambungan. Qodar berarti ketika Allah telah
menetapkan sesuatu akan terjadi pada waktunya dan Qodho adalah tibanya masa
ketika ketentuan yang telah ditetapkan terjadi. Oleh karenanya, Qodar yakni
suatu ketetapan Allah berlaku terhadap segala sesuatu sejak zaman azali serta
Qodho adalah pelaksanaan Qodar ketika terjadi.( Syaikh Muhammad bin Ibrahim
Al-Hamd,2007)
Rasulullah SAW berkata :
Kamu beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan
kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk. (HR.
Muslim no. 8)
Semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi
ketetapan dari Allah SWT seperti adanya pergantian siang dan malam, adanya alam
yang indah, sebaliknya adanya hal-hal yang ditetapkan seperti bencana alam,
musibah dan lain sebagainya. Begitu pula adanya perbedaan keadaan manusia,
Allah menciptakan manusia dengan bermacam ragam, ada wujud yang sempurna atau
kurang sempurna. Adapun Allah mengatur setiap kebutuhan manusia dan menempatkan
kondisi manusia dalam berbagai macam hal yang berbeda. Karena yang sedemikian
itu adalah sebuah ketentuan yang sudah pasti baik adanya dan seharusnya manusia
juga mampu mengimani sampai sedalam itu.
Begitupun dengan kematian, yang sudah merupakan
takdir Allah kepada semua mahlukNya bahwa semua yang bernyawa pasti akan mati.
Tidak terkecuali manusia, tidak harus sudah tua atau sakit, kematian itu pasti
akan menghampirinya. Disinilah takdir Allah yang harus kita yakini bahwa ini
merupakan yang terbaik menurut ketetapan Allah. Manusia akan diuji dengan takdir
atas kematian seseorang yang kita cintai dan sayangi, seberapa besar keimanan
kita kepada Allah atas ujian yang menimpa kita. Seperti halnya narasumber yang
penulis kenal, dia mengisahkan bagaimana tidak menyangkanya takdir yang Allah
tetapkan dalam kehidupannya disaat ditinggal suami tercinta untuk
selama-lamnya.
Narasumber
merupakan seorang wanita yang sudah 8 tahun ditinggal suaminya untuk
selama-lamanya. Tahun 2013 suami tercintanya dinyatakan koma karena hipertensi
diakibatkan stroke dan tidak sadarkan diri. Selama 7 jam suaminya mengalami
koma yang akhirnya Allah berkehendak lain, suami tercintanya harus meninggalkan
semua orang yang dia cintai dan sayangi. Dunia seakan berduka, dokter tidak
bisa berbuat apa-apa atas ketetapan Allah ini, pasti ini yang terbaik untuk si
pasien.
Sang
istri tidak percaya atas takdir yang menimpanya, dia menangis, menjerit,
bertanya pada Tuhannya kenapa harus dirinya yang diberikan cobaan seberat ini? Dia belum yakin atas musibah yang sedang menimpanya.
Andai tidak ada orang-orang yang menguatkan dan mensuportnya tentunya dia tidak
akan bisa bertahan sampai sekarang. Bimbingan seorang ustad dan orang-orang
terdekat menguatkan dia untuk bisa bertahan. Sampai pada titik dia ikhas dan
ridho atas ketetapan takdir Allah yang menimpanya.
Semua yang menimpa manusia berdasarkan qadha dan qadar Allah.
Allah telah mengetahui hal itu sebelumnya. Pena-Nya telah menulis semua takdir
dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hikmah-Nya berlaku. Namun yang
amat penting adalah apakah manusia menunaikan tugasnya dalam hal qadha dan qadar ataukah
tidak?
Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar
dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika percaya bahwa semua yang
menimpanya berasal dari sisi Allah, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya,
maka Allah akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak
gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang
yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah.
Sejatinya manusia mampu membuat rencana yang
hebat. Mampu merencanakan untuk mencapai kepentingan dan tujuannya dengan
detail dan rinci. Akan tetapi, sebagus-bagusnya rencana manusia ketika Allah
tidak meridhoi rencana itu terjadi manusia mampu berbuat apa. Mau tidak mau
kita harus menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita baik ataupun buruk.
Sehingga kita seringkali tidak menerima keadaan dan seringkali menyalahkan
takdir Allah yang salah terhadap dirinya. Manusia mulai merasa bahwa nikmat
yang diberikan Allah adalah suatu ketidak adilan.
Hadits di atas menyebutkan takdir baik maupun
buruk, oleh karena itu, manusia senantiasa mampu menyiapkan diri dan mental
untuk menyambut bukan hanya suatu ketetapan yang diberikan kepada manusia dalam
keadaan baik saja, namun juga manusia mampu mempersiapkan dalam keaadaan buruk
juga. Manusia akan lebih mudah menerima jika dirinya diberi keadaan takdir yang
baik seperti mendapatkan rezeki yang melimpah dan lain sebagainya. Namun,
manusia akan susah menerima takdir baginya dalam keadaan buruk atau sebagai musibah
dan cobaan. Karenanya sering kali manusia frustasi dan menempatkan prasangka
buruk kepada takdir yang telah Allah berikan kepadanya.
Musibah bisa saja menimpa kepada siapa saja
terserah kehendak Allah. Misalnya, ketika seorang pedagang yang berjualan dari
siang sampai malam, dirinya telah bekerja keras serta mempunyai perhitungan
bahwa ketika hari itu akan sangat ramai, namun karena hujan lebat seharian
alhasil pelanggan yang datang hanya sebanyak hitungan jari. Hal yang terjadi
adalah pedagang tersebut tidak bisa menolak dari takdir yang demikian. Takdir
yang demikian seringkali membuat kita jauh akan syukur kepada Allah.
Adapula perencanaan manusia yang telah
merencanakan dan mempersiapkan tentang jodoh. Pada suatu hari, ada sepasang
calon pengantin yang telah saling mengenal dengan cara ta’aruf sehingga
mendapatkan keinginan yang sama yakni melangsungkan ke jenjang pernikahan.
Keduanya telah merencanaka dengan matang apa saja yang diperlukan untuk
melangsungkan pernikahannya. Undangan telah dicetak dan disebar luaskan, gedung
pernikahan telah dipersiapkan, kedua belah pihak keluarga telah saling
mempersiapkan kostum dan hari pelaksanaan dengan matang. Semua hal tersebut
menurut renananya akan berjalan dengan sangat lancar dan baik, tidak akan ada suatu
hal yang mampu menghentikan rencana mulia mereka. Akan tetapi pada hari
berlangsungnya akad pernikahan, mempelai pria mengalami musibah kecelakaan
dengan satu mobil rombongannya menuju lokasi pernikahan. Allah pun berkehendak
lain, kecelakaan tersebut mengakibatkan meninggal dunia calon mempelai
suaminya.
Hal-hal di atas seringkali membuat manusia akan
merasa bahwa dunia tidak adil, takdir Allah tidak bagus dan merasa garis
hidupnya tidak jelas. Namun akan tiba saatnya manusia akan menyadari apa yang
telah direncanakan oleh Allah adalah suatu hal yang terbaik bagi hidupnya.
Tidak sedikit juga di antara banyak manusia yang memiliki hati yang tangguh
dengan mampu menerima dan selalu bersyukur dengan semua apa yang telah Allah
tetapkan.
Kebanyakan muslim ketika ditanya apa yang
mereka cari dalam hidup ini? Mereka selalu menjawab mencari ridho Allah, karena
mereka ingin mendapat ridho dari Allah. Akan tetapi hal yang sebenarnya bahwa
ridho Allah bukan untuk diminta dan dicari tetapi untuk mereka lakukan. Karena
subjek utama ridho Allah adalah diri mereka sendiri yang harus ridho kepada
Allah bahwa kemudian Allah ridho adalah hal yang otomatis. Karena tidak mungkin
kalau mereka ridho dengan takdir Allah lalu Allah tidak meridhoi.
Allah
SWT berfirman yang artinya adalah : “Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (Q.S.al-Fajr [89]: 27-28)
Dari dalil di atas menyebutkan bahwa semua
manusia di muka bumi ini bisa jadi Allah meridhoi dan menerima amalan kita bisa
jadi tidak, kecuali beberapa orang yang dijamin masuk surga oleh Allah seperti
Rasulullah. Selain itu, semua manusia di dunia ini kedudukannya sama di mata
Allah. Oleh karena itu, kita tidak usah sibuk mencari ridho Allah, akan tetapi
kitalah yang harus terus menerus ridho kepada Allah karena rumusnya adalah
Rodhiatan Mardiyah bukan terbalik Mardiyatan Rodhiah. Jadi kitalah yang harus
memastikan setiap saat ridho kepada apapun saja yang Allah tentukan untuk kita,
jika kita ridho dan terus ridho efeknya pasti diridhoi oleh Allah.
Seharusnya kita ridho berlangsung di setiap
saat dalam hidup kita. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak berdiri di fakta
hidupnya, tidak berdiri di kenyataan hidupnya mereka berdiri di harapannya
saja. Maka yang akan terjadi adalah akan selalu merasa kurang apa yang di dapat
dari hidupnya. Namun jika kita ikhlas berpijak ditempat dan momentum yang Allah
beri serta dengan meridhoi apa yang telah Allah karuniai kita sampai saat ini
dengan posisi dan keadaan bagaimanapun. Maka ridho Allah akan menyertai
keikhlasan kita untuk melangsungkan kehidupan kita
Ketika umat muslim di dunia ini telah
mengaplikasikan ridho untuk diridhoi, maka akan terciptanya hati yang
senantiasa ikhlas kepada setiap ketentuan yang Alah berikan. Rasa ikhas ini
terwujud karena ketaatan kita terhadap Allah SWT, serta kita menjadi hamba
Allah yang insyaAllah dimuliakan Allah karena mendapatkan ridho Allah.
Allah memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petunjuk
ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan
pahala besar di samping pahala besar yang disimpan Allah pada hari pembalasan
kelak. Semoga
kita semuanya menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur atas nikmat Allah
dengan segala takdir-Nya..

Mantulll...
BalasHapusAlhamdulillah mantul
BalasHapus