ROMANTIKA PULANG KAMPUNG
Karya
: M. N. Rao Pulungan
Mudik bisa disebut sebagai budaya yang sudah amat
melekat di masyarakat Indonesia. Pulang ke kampung halaman dalam rentang waktu
setahun sekali, rasanya menjadi ritual yang wajib dilakukan, sebagai bagian
dari upaya menjaga tali silaturahmi kepada sanak keluarga. Pengalaman seru dan
menarik pun tak luput dirasakan para pemudik saat melakukan kegiatan pulang
kampung tersebut. Sebagian dari mereka mengaku, ada semacam sensasi yang asing
namun menggembirakan, saat mereka berada dalam perjalanan pulang menjelang hari
kemenangan untuk menemui keluarganya di kampung halaman.
Tradisi pulang kampong pasti banyak dilakukan
oleh semua orang termasuk keluarga kami. Setiap menjelang Idul Fitri kami
mempersiapkan untuk mudik, 4 hari menjelang mudik aku sudah mempersiapkan dari
mulai pakaian, makanan selama diperjalanan sampai oleh-oleh untuk sanak saudara
di kampung, tak ketinggalan obat-obatan sebagai P3K karena kami masih mempunyai
anak-anak yang masih kecil, takut di jalan atau di kampong halaman mendadak
anak sakit. Begitupun dengan suami biasanya menjelang lebaran dia menyelesaikan
pekerjaan sebelum libur lebaran, terkadang harus lembur untuk bisa ambil libur
lebih lama atau cuti sekalian.
Perjalanan mudik ini banyak sekali romantikanya,
setiap tahum meskipun macet atau menempuh perjalanan nan panjang dan
melelahkan, kami tidak pernah merasakan kapok untuk perjalanan mudik ini.
Begitupun dengan anak-anak meski mereka masih kecil rasa lelah tidak mereka
rasakan, bersyukur kami mempunyai anak-anak yang tidak pernah rewel meski
dijalanan padat dan macet berjam-jam. Pernah suatu ketika kami menempuh
perjalanan 30 jam antara Jakarta – Cilacap, padahal normalnya 7-8 jam sudah
sampai di kampong halaman. Hal ini tidak menjadikan kami kesal atau marah,
semuanya kami nikmati, sekali-kali berhenti untuk beristirahat bersama-sama
pemudik yang lain.
Kami biasanya berangkat dari rumah sekitar jam
21.00 WIB, memang jam-jam seperti ini rata-rata pemberangkatan para pemudik
sehingga pastinya jalanan padat. Kalau kami berangkat habis shubuh kasihan
anak-anak harus dibangunkan dan tidak mudah untuk membangunkan mempersiapkan
mereka, maka kami sengaja berangkat malam sehingga anak-anak biar nyaman tidur
selama perjalanan. Dalam perjalanan menuju kampong halaman banyak melewati
perkampungan, perkotaan atau pemandangan nan asri, ini menjadi destinasi selama
perjalanan mudik. Terkadang apabila
suamia lelah menyetir, kami singgah di hotel/penginapan untuk sekedar beristirahat
dan besoknya melanjutkan lagi perjalanan.
Apabila perjalanan mudik sudah mendekati kampong
halaman rasa senang dan bahagia akan terpancar pada wajah anak-anak, mereka
pasti berteriak “asik bentar lagi sampai rumah eyang”. Merekapun akan
bersiap-siap untuk sampai ke rumah eyangnya dari yang tadinya tiduran akan
mempersiapkan untuk turun.
Sesampainya di rumah eyang, terlihat eyang
menyambut kami dengan bahagia dan senang, yang terucap pertama kali dari mulut
eyang mendekati mobil kami adalah menanyakan cucu-cucunya. “mana cucuku….mana
cucuku…” begitu khas eyang menyambut kami setiap kami datang. Bergantian
anak-anak turun memeluk eyang sambil menciumi karena lama tidak bertemu. Pulang
kampong ini memang kami jarang lakukan karena pekerjaan suami tidak bisa
ditinggal, kecuali momen lebaran.
Selama di kampong halaman, kami bersilaturahmi
dengan sanak saudara yang lain. Biasanya selepas shalat Idul Fitri kami
bersilaturahmi dengan tetangga, baru siangnya kami silaturahmi dengan saudara
yang beda kampong dengan rumah eyang. Ada sekitar 15 KM dari rumah eyang tempat
dimana dahulu masa kecil suamiku, di tengah perkebunan karet. Eyang memang
pindah ke kabupaten semenjak eyang kakung meninggal, dengan alasan setelah
eyang kakung meninggal selalu terbayang masa dimana ada eyang kakung, untuk menghilangkan
kesedihan. Tapi setiap saat eyang selalu mampir ke kampong kelahiran suamiku,
karena disini masih banyak saudara yang tinggal dan disini pula tempat
dimakamkannya eyang kakung.
Kampong kelahiran suamiku di tengah perkebunan
karet, dahulu kata suamiku masa kecilnya masih sepi, listrik belum ada, jauh
dari perkotaan, apabila ingin ke kota harus naik angkutan colt mini atau bis
kecil sampai ke kota. Tapi sekarang kampong ini sudah ramai, bahkan menjadi
jalur alternative untuk pemudik yang akan melintas ke kota Cilacap, menghindari
macet jalan besar.
Anak-anakku kalau sudah berada di kampong
kelahiran suamiku sangat senang, mereka bisa main apa saja, bermain di kebun,
melihat sawah atau melihat kereta api lewat, karena dekat dengan perlintasan
kereta api. Mereka bisa main sepuasnya sampai sore, baju belum kotor, belum
selesai bermain. Biasanya yang tidak pernah mereka lakukan apabila ada di rumah
sendiri, kata suamiku, “biarin hitung-hitung outbond gratis”.
Selama di kampong halaman, biasanya suamiku
bersilaturahmi dengan teman-teman sekolahnya dari semenjak SD – SMA, kadang
mereka mengadakan reuni pada momen pulang kampong ini. Banyak cerita dan
kenangan selama mereka kecil dan sekolah untuk dikenang. Bukan hanya sekedar
berkumpul mereka orang-orang yang sudah sukses diperantauan saling bersinergi
untuk membantu teman-temannya yang beruntung dengan memberikan peluang usaha di
kampong halaman.
Kami berada di kampong halaman biasanya tidak
pernah lama, 5-7 hari setelah itu kami biasanya langsung pulang lagi ke
Jakarta. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta biasanya kami banyak mampir di
kota-kota yang ada tempat wisatanya, sepeerti ke Pangandran, Sumber Alam Garut
atau Sari Ater Subang, tempat kelahiranku sekalian kami mampir dan mudik kedua
ke rumah orang tuaku. Disinilah romantika dari mudik lebaran yang tidak
membosankan, bisa bersilaturahmi dan sekaligus berwisata dan berlibur di tempat-tempat
yang kami lalui.
Rutinitas
mudik lebaran ini tidak pernah terlewat setiap tahunnya, selalu kami
menyempatkan untuk pulang kampong karena alasan kami, selama orang tua masih
ada dan saudara masih pada hidup, maka kami wajib untuk silaturahmi meski itu
hanya 1 tahun sekali, pada saat momen lebaran. Sampai sekarang anak-anak sudah
besar mudik lebaran tetap kami lakukan. Dengan beban yang lebih ringan karena
anak-anak lebih mengerti dan mempersiapkan keperluannya sendiri selama
perjalanan dan pulang kampong.
Silaturahmi
pulang kampong ini tetap akan berlanjut sampai anak cucu, karena hal ini
menjadi tradiri di Indonesia yang tidak bisa dihilangkan, meskipun sekarang
sedang Pandemi, orang-orang yang pulang kampong atau mudik pada saat lebaran
tetap masih dilakukan, padahal pemerintah sudah menghimbau bahkan melarang
untuk menunda pulang kampong sampai pandemic ini berakhir. Begitupun dengan
kami sudah 2 kali lebaran ini tidak mudik krena kami tahu untuk menjaga
kesehatan eyang, kami tidak ingin menjadi penyebab penyebaran virus pandemi.
Tapi kami bisa bersilaturahmi pada saat lebaran dengan cara melalui media
social, telepon, videocall atau lewat zoom. Semoga pandemi ini cepat berakhir,
dan kami bisa kembali menikmati romantika mudik lebaran atau pulang kampong.


Komentar
Posting Komentar